Senin, 13 Juli 2015

Mari Merajut



Assalamualaikum, kawan! Bagaimana puasa kalian? Semoga masih lancar ya :)) Hmm, kali ini aku mau berbagi pengalaman aja sih. Bahasa kali ini aku nggak mau yang terlalu formal. Oke ini pakai bahasa curhat sehari-hari aja yaa...
Jadi kenapa mari merajut? Suka aja sama inisial M & M kaya permen M & M itu, hehe. Ini merajut dalam konotasi yang beneran, btw. Merajut alias bikin rajutan. Pengen aja kalau bisa (aamiin) sekedar bikin sambinan atau bisa dipakai sendiri dan hasilnya bagus.
Aku mulai belajar merajut ini sejak kelas 9 SMP. Gini ceritanya, pada suatu hari (waks) oralah. Waktu kelas 9 SMP dulu setelah UN, kan masa gabut-gabutnya tuh... Bingung kan tiap hari selama hampir sebulan kita libur dan nggak ada kerjaan. Nggak tau mau ngapain juga. Aku inget banget waktu itu kerjaanku tiap hari cuma nonton Kompas TV dan itu acaranya Raditya Dika yang judulnya Malam Minggu Miko. Tontonanmu Tit, jones banget-__-
Suatu hari saat ku gabut, tiba-tiba temen deketku, Lissa sms / mention aku di twitter aku lupa, pokoknya ngasih info dan ngajak, “Tit, ada les ngrajut gratis lho!” Sontak, aku yang emang dasarnya suka seni kriya jadi tertarik. Setelah kabar kabari dan ternyata les-lesannya deket rumahku. Hmm, capcuus.
Jadi les-lesan itu namanya Poyeng, letaknya di Jln. Palagan nomer 132. Bawah hampir deket-deket monumen jogja kembalinya. Waktu aku janjian sama Lissa untuk dateng dan les bareng ke situ, aku ngajak Ibuku sekalian. Disana tempatnya memang sempit sih, kecil gitu. Tapi lumayan cozy dan wangi. Aku suka banget sama wanginya, hahaha (ngopo). Itu semacam usaha kecil-kecilan dari mahasiswa Bandung ternyata. Sampai sekarang udah banyak sih cabangnya. Udah sukses gitu.
Di Poyeng itu juga udah tersedia berbagai macam alat rajut. Eeits, tapi disini itu ngrajutnya pakai 2 stick. Padahal aku bisanya yang pakai 1 stick aja. Hmm, jadi ada perbedaannya. Kalau pakai 2 stick itu namanya knitting, kalau 1 stick namanya crocheting. Nah, aku bisanya yang crocheting. Yaah, gagal deh. Tapi aku dah terlanjur beli alat dan benangnya yang knitting. Yaudah deh, sebisanya aku belajar. Kalau si Lissa sih bisanya yang knitting. Jadi kita saling melengkapi gitu deh, hihihihi.
Ini perbedaannya:
Ini yg 1 stick (Crocheting) ada semacam pengaitnya gitu


 
Ini yg pakai 2 stick (knitting) tanpa pengait
Hmm, karena aku yang nggak bisa-bisa belajar knitting dan ibuku pun mengalami hal yang sama denganku, yaudah kami memutuskan untuk pulang aja._. Lissa masih asik nyelesaiin syal knittingnya tak tinggal pulang. Dadah Lissa...
Aku masih kepo dengan cara ngrajut dan akhirnya karena ke-gabut-an-ku setelah UN, aku memutuskan untuk beli buku rajutan di toko assesoris. Yap, Jolie. Aku juga sempet nyari buku-buku rajutan gitu di gramed. Setelah kulihat-lihat (ini ceritanya nggak beli Cuma liat2) isi bukunya... Aku juga nggak mudeng. Wkwkw. Akhirnya gara-gara Ibuku geregetan karena aku nggak lek ndang milih atau beli buku, aku jadi dibelikan 1 buku rajutan sama Ibuku. Lumayan sih ada pola-polanya gitu dan itu crocheting. Jadi aku lumayan paham.
Sesampainya di rumah, aku belajar dari buku itu dan... Terererereret, aku baru bisa bikin pola awal dan kulanjutin akhirnya jadi lonjong aneh gitu-__- Yaudah sih nggak papa, namanya juga belajar.
Days 2, aku belajar pola-pola yang lebih susah dan hasilnya tambah bagus, dikit, okee, aku merasa bersalah karena ngabis-abisin benang, wkwkwk.
Days 3, karena mulai greget, akhirnya kulanjutin deh bikin yang tadinya lonjong nggak jelas gitu, tak terusin keatas, dan akhirnya aku bisa bikin.... Sepatu kucing. Xixixixi ><
Days 4, udah mulai capek juga, akhirnya aku serius dan alhasil aku berhasil lhooo! Bikin semacam dompet/dosgrip gitu. (Terlalu besar untuk dompet, kekecilan baut dosgrip) Hmm, okelah.
Nah, hobby ini aku lanjutin sampai sekarang karena aku memang suka banget sama yang namanya rajutan. Mahal sih kalau beli. Jangan tanya, belajarnya aja susah-_- wkwkw pantesan harganya mahal. Apalagi sama tas-tas atau dompet merk Do*wa. Itu mahal eeh, kantong pelajar sini. Tapi emang berkualitas dan bagus gitu.
Benang Rajut & Stick Model Crochet
 
Bros / gantungan kunci isi (Bunder)

Kiri: Tatakan Gelas, Kanan: Kalo digabungin bisa jadi taplak/selimut

dompet (?) / dosgrip (?) / wadah yg penting-,-

Bross :))

Sampai sekarang aku masih sih bikin-bikin rajutan gitu kalau pas selo. Biasanya aku bikin bros karena aku pakai jilbab jadi bisa tak pakai sendiri. Hehe. Kalau untuk belajar aku lebih suka lihat video tutorial di youtube, itu buanyaaak banget. Tinggal dipilih dan disesuaikan sama kemampuan. Karena ada yang cuepet banget, ada juga yang pake bahasa Spanyol dan aku nggak paham, oke. Ini ada beberapa hasil rajutanku selama ini. Hehe, masih amatir sih, tapi aku pengen terus belajar kok J ayo belajar bareng! Atau mungkin ada yang mau pesen bros ke aku juga bisa, harga bisa kontak line (mah ngopo).
Serius ini :D Id lineku: pratitaann / Mention twitter aku juga bisa @PratitaAnn.

Sekian dan terimakasih.

Minggu, 12 Juli 2015

#JanganPelitPelit!

Kalau kamu pelit, aku juga bakalan pelit sama kamu
Makanya kamu jangan pelit-pelit
Toh semua kan bukan murni darimu jua
Semua ada sumbernya
Semua di dunia ini sumbernya dari Tuhan
Apakah kau lupa?

Bukanya aku nggak ikhlas
Tapi semua ada timbal baliknya
Hewan aja punya tuh simbiosis
Mau kamu dikatain simbiosis parasitisme?

Jika memang itu murni darimu
Apa salahnya berbagi beramal
Bukannya itu ladang pahala?
Atau kau tak percaya adanya pahala
Katanya suka beramal
Amal tak harus berupa uang dan barang
Amal ilmu pun sangat bisa dan boleh banget malah
Apalagi kita sama-sama pelajar yang haus ilmu

Jadi orang jangan pelit-pelit
Kalau bahasa jawanya sih medhit
Nek pelit kuburane sempit *Naudzubillah
Apalagi ilmu harus disebarkan bukan?
Ada hadiztnya lho! Kamu lupa po?
Makannya jadi orang jangan pelit-pelit



Sincerelly,

Pratita


Sabtu, 11 Juli 2015

Dibalik...



            Pernah merasakan seret saat sesudah makan dan tidak minum? Ya, mungkin itulah yang saya rasakan selama beberapa hari terakhir ini. Saya sedang mengalami seret dalam menulis postingan blog ini. Namun untungnya saya masih berkomitmen untuk nulisin blog saya ini dan anti sama namanya mbayar denda. Wahahaha, memang jumlahnya nggak seberapa sih tapi emoh aja. Anti bolong alee! Dan juga postingan ini adalah postingan selingan dibalik cerita fiksi Big trouble yang ber kres-kres. Hehe.
            Jadi ceritanya Big Trouble ini adalah cerita bersambung dari mulai #1 hingga #9 sekarang ini dan mungkin masih bisa saya lanjutkan sampai kres ke belum tahu berapa. Memang ini adalah cerita fiksi yang bau-baunya agak misteri mistis gimana gitu, hehe. Sengaja sih temanya seperti itu karena saya sedang suka aja.
            Mungkin teman-teman di sini agak bosan ya dengan cerita Big Trouble ku ini, hmm, mungkin postingan kedepan bisa tak bikin lebih variatif deh, daily life of my life (?) insyaallah. Tapi to, BTW semenjak aku posting Big Trouble mulai #1 kok viewers blog ku makin banyak ya? Aku bingung. Padahal habis posting trus tak tweet saya langsung menutup halaman blognya. Hmm, yaudeh deh, mungkin ada yang lagi kepo sama saya. *GR mode: ON. Hahaha.

Jumat, 10 Juli 2015

Big Trouble #9



           Aku melihat ke arah jam tanganku yang berwarna merah muda terang. Jam sudah menunjukan pukul delapan pagi. Tidak terlambat bagiku untuk menelurusi hutan yang kering ini. Ya, saat ini adalah musim kemarau. Tapi aku tetap tidak mengerti, mengapa jika di sini kering dan sungguh hangat, di rawa tetap terasa lembab dan yeah, begitulah. Aneh sekali. Aku sungguh berharap bila udara di sekitar rawa dan rumah nenek terasa seperti ini.
            Aku menjelajah hutan yang kering ini ke arah yang lebih dalam, dalam, dan dalam. Semuanya terlihat kering, hangat, dan seluruhnya berwarna oranye. Benar, ternyata tak ada siapa pun di hutan ini kecuali aku. Tapi aku sedikit kesal kepada diriku sendiri. Aku bertanya di dalam hatiku, “Mengapa di sini tak ada sedikit pun tanda-tanda? Tak ada petunujuk, tak ada yang menakutkan, dan tak ada barang bukti apa pun. Apanya yang salah? Sepertinya aku terus melewati jalur yang berbeda dari yang sebelumnya. So, gak ada yang salah kan?”. Tapi supaya lebih meyakinkan hatiku, aku mencecerkan permen-permenku untuk menandai jalan yang telah kulewati sebelumnya. Mungkin ini akan jadi lebih mudah dan pasti berhasil.
            Satu jam berlalu. Aku melihat ke jalanan hutan dan tak melihat satu permen pun yang aku cecerkan tadi. Berarti aku telah berhasil melewati jalan yang benar, yeesss! Lima menit kemudian,aku melihat di kejauhan hutan dan terlihat sebuah titik sinar berwarna merah muda yang menyembul di atas tanah yang tertutupi oleh dedaunan kering. Aku dekati saja titik sinar yang terlihat mencurigakan itu. Aku terus berjalan sambil memicingkan kedua mataku agar objek misterius itu tidak hilang dari pandanganku. Aku terus mendekat, mendekat, dan mendekati objek itu. Objek itu terlihat semakin besar dan besar. Sekarang objek itu berada tepat di depan kakiku. Langkahku terhenti.
Satu petunjuk telah aku temukan. Tapi ternyata itu bukan petunujuk tentang makhluk mengerikan yang suara debam kakinya itu masih tengiang di telingaku. Petunjuk yang aku temukan itu adalah sebuah permen karet yang telah dikunyah dan dibuang begitu saja. Tapi aku tetap terus penasaran dan akan menyelidikinya. Tapi tiba-tiba, terdengar sebuah suara dengan jelas dan keras, “Hahaha... Mengapa kau pegang dan amati permen karet itu? Aneh sekali. Itu kan sudah dikunyah dan dibuang begitu saja.”
Aku pun menjawabnya dengan suara sangat lantang,
“ Siapa itu? Siapa di sana? Apa aku mengenalmu?” Aku memutar-mutarkan pandanganku ke arah seluk-beluk hutan. Tapi suara misterius itu tidak menjawabnya. Akhirnya kuputuskan untuk tetap tinggal di dekat permen karet yang telah aku temuakan tadi. Tapi sekarang ini, aku sudah tidak lagi memikirkan asal suara itu dan apapun tentang suara itu.