Kamis, 28 Mei 2015

Kotak Musik Saphira




            Beribu masalah mulai datang kepadaku saat aku membukanya. Mulai dari yang kecil, hingga yang besar. Semua itu membuat pikiranku berantakan dan kacau, sekaligus ketakutan. Aku bingung dan aku selalu bertanya-tanya di dalam hatiku,
               “Bagaimana cara menyelesaikan masalah ini tanpa harus membuangnya? Bagaimana cara agar gadis kecil itu pergi untuk selama-lamanya? Bagaimana?” Tapi, semua jawaban dari itu adalah selalu tidak ada ketika aku memikirkannya. Namun, pada saat-saat tertentu ketika aku sedang tidak memikirkannya, jawaban itu terlintas begitu saja dibenakku. Hanya seperti sebuah siluet yang melesat dengan cepat begitu saja di pikiranku sehingga terkadang aku tidak dapat mengingat kembali jawabannya. Tapi, hey tunggu! Sepertinya jawaban dari salah satu pertanyaan itu ada di memori otakku delapan tahun yang lalu, saat aku masih mengingatnya, saat aku masih belum tahu apa-apa, dan begitu saja kutinggalkan semua masalah itu.
            Pagi itu aku membantu ibu di dapur untuk memasak sup jagung yang sangat lezat, dengan beberapa potongan wortel, jagung, daging ayam, dan bumbu-bumbu lainnya untuk sarapan pagi. Hari itu aku sedang berlibur ke rumah nenek yang berada di Semarang bersama keluargaku dan sanak saudara lainnya. Namun sayangnya, kakek telah wafat karena sudah tua sekitar tiga tahun yang lalu. “Sup jagung sudah matang! Ayo cepat kemari!” teriakku dari arah dapur kepada semua saudaraku yang umurnya jauh lebih tua dariku. Ya, aku adalah cucu termuda dari semua cucu nenek yang ada.
Beberapa menit kemudian, setelah mereka asyik dengan kegiatannya masing-masing, akhirnya mereka semua langsung bergegas pergi ke ruang makan untuk bersiap sarapan pagi.
“Wah, enak banget baunya. Apa e ini? Sup jagung ya?” tanya kakak sepupuku yang bernama Rahma. Ia adalah cucu tertua dari sepuluh cucu nenek yang ada.
“Iya. Doyan kan? Kalo enggak sih aku habisin mbak, hehehe, “ jawabku sambil tertawa sembari meletakkan beberapa mangkuk sup ke atas meja makan yang panjang dan lebar.
“Ya doyan lah Ka. Masa’ gak doyan? Baunya aja enak gini, “ ujarnya sambil duduk di sebuah kursi yang terletak di sebelah kanan meja. Aku pun mulai duduk disebelahnya dan kami pun lanjut berbincang-bincang.
            Setelah kami semua selesai sarapan pagi dan mencuci piring, kami pun mulai asyik dengan kegiatan kami masing-masing. Mulai dari yang bermain PS, menonton film di laptop, bermain handphone, serta ada pula saudaraku yang sedang membaca majalah sambil makan beberapa camilan dan kue-kue kecil. Akan tetapi, beberapa saat kemudian, ada sesuatu yang terletak di pojok kanan ruang keluarga dan begitu menyita perhatianku dari permainan GTA FIVE yang sedang aku mainkan bersama kakak sepupuku. Benda yang sungguh besar dan jaraknya lumayan jauh dari tempatku bemain saat ini. Ya, benda itu adalah sebuah almari besar yang terlihat sedikit usang dan cukup tua serta berukuran lumayan tinggi. Karena aku sudah cukup lama memandanginya dan sudah tertarik dengan almari itu beberapa menit yang lalu, aku pun memutuskan untuk mulai melangkahkan kakiku, dan mendekatinya. Rasa penasaran pun mulai berjalaran di sekeliling tubuhku.
            “Heh! Iki durung rampung kepriwek? Jangan pergi dulu lah Ka! Mau pergi ke mana? Vika!” teriak dan panggil kakak sepupuku yang berlogat sedikit Jawa kepadaku. Ia bernama Tomi dan ia adalah kakak sepupuku yang paling asyik. Menurutku begitu.
“Nanti lagi ya mas, “ ujarku sambil berlalu pergi mendekati almari yang sangat antik dan menarik itu.
Wo lah bocah. Ckckck, “ Mas Tomi bergumam sendiri sembari menaikkan laptopnya ke dalam pangkuannya. “Ah sudahlah”, pikirku.
Aku pun mulai berjalan mendekati almari yang terlihat sedikit usang itu. Perlahan, sedikit demi sedikit, aku terus melangkahkan kakiku, rasa penasaran pun terus tumbuh di dalam diriku. Beberapa saat kemudian, aku pun telah sampai di depan almari itu. Almari yang benar-benar sangat besar dan indah, namun sudah terlihat usang dan tua  karena tidak terawat. Dengan rasa penasaranku yang sudah memuncak, kucoba membuka alamari itu dengan menarik pintu alamri itu ke arah keluar. Namun, karena tetap tidak bisa, akhirnya kucoba untuk menendangnya, dan... “Duer, ptak, prak!” suara tendanganku ke arah alamari itu membuat kegaduhan yang luar biasa.
“Suara apa wi? Ngopo we Vik ning kono barang? Kok adoh-adoh?” tanya Mas Tomi kepadaku. Raut wajahnya mendadak heran ketika memandangiku dari kejauhan.
“Nggak papa Mas. Em, cuma pengen tahu aja ini alamri bisa dibuka atau enggak, “ jawabku dengan suara yang sedikit lirih. Aku masih bingung mengapa aku bisa tertarik dengan almari tua dan usang ini.
Welah kowe ki aneh-aneh wae Vik. Nek menurutku sih ya, kuwi lemari kudune isa dibuka sih. Ning gak tau nek dikunci. Coba wae, rasah ditendang barang la, “ ia memberiku sedikit saran yang baik. Namun aku tidak mempercayainya.
“Okelah Mas. Tapi tadi aku coba buka, aku tarik ke arah luar gak isa iki. Tak tendang juga gak bisa kebuka. Aneh to?” jawabku membantah sarannya, karena aku telah mencoba membukanya dengan cara-caraku sendiri dan hasilnya tetap tidak berhasil.
“Ya wes lah. Kamu tidur wae sana, nek gak ya main GTA lagi, “ rupanya dia belum memikirkan cara lain untuk membuka almarinya.
Aku coba kembali untuk menendang dan memukul almari itu, akan tetapi tetap hasilnya adalah masih tetap terkunci. “Baguslah, “ gumamku pelan. Karena aku sedikit kecewa dengan hasilnya, akhirnya kuputuskan untuk mencoba membukanya kembali pada pukul sembilan malam nanti. Menurutku, itu adalah waktu yang pas untuk membukanya.
Aku pun mulai melangkahkan kakiku kembali, berjalan ke arah kerumunan orang-orang yang sedang bersantai, dan kembali bermain GTA FIVE bersama Mas Tomi. Menurutku kegiatan sehari-hariku yang terus menerus saja begini selama berlibur di Semarang sangatlah membosankan. Maka dari itu, aku pun memutuskan untuk mencari tahu bagaimana cara untuk membuka almari tersebut.
***

Ingin tahu lanjutan cerita ini? Tunggu Part 2 nya yaa!
Terimakasih

Rabu, 27 Mei 2015

Reuni Kecil



            Teet, teet, teet” bunyi bel istirahat berdering nyaring pada pukul 12 siang ini. Semua teman kelasku berhamburan keluar kelas. Kebanyakan mereka pergi ke kantin untuk makan siang. Ada pula yang menuju mushola sekolah untuk melaksanakan ibadah solat.
            Telepon genggamku bergetar, tanda ada sms yang masuk. Kubaca isi sms tersebut sebelum aku pergi ke toilet. Tak kusangka isi pesan tersebut adalah dari teman SD-ku yang mengundangku untuk menghadiri pesta ulang tahunnya yang ke-17.
“Woow, ternyata dia masih ingat aku ya. Ah nanti sajalah membalasnya,” pikirku. Aku bergegas ke toilet. Setelah itu aku bergegas ke mushola untuk melaksanakan ibadah solat.
            Selesai solat aku kembali ke kelas. Walaupun waktu istirahat masih 15 menit, tetapi aku lebih suka menghabiskan waktuku di kelas ketimbang jalan-jalan ataupun sekedar nongkrong di kantin sekolah. Sampai di kelas aku membaca ulang isi pesan singkat dari teman SD-ku itu. Adya namanya. Sebenarya saat SD aku sangat dekat dengannya. Namun, karena kami tidak ditakdirkan untuk berada pada satu SMP atau SMA yang sama, hubungan kami sudah tidak sedekat dulu.
            “Tita, kamu besok malem Minggu selo nggak? Dateng ya ke acara ulang tahunku besok malam minggu jam 7 di Garden Resto. Bisakan?”, kurang lebih isi smsnya begitu. Kemudian aku berpikir untuk mengingat-ingat apakah aku ada jadwal atau tidak. Setelah kuingat-ingat ternyata aku memang tidak ada jadwal alias selo. Tanpa pikir panjang kubalas sms Adya tadi, “Oke, aku usahakan datang ya!”.
            Bel masuk pelajaran ke tujuh pun berdering. Tanda akan dimulainya pelajaran kembali. Kali ini pelajaran biologi. Dua jam pelajaran pun berlalu cepat karena hais digunakan untuk menonton video yang berkaitan dengan materi biologi.
            Setelah jam pelajaran selesai aku segera pulang karena hari ini aku sedang tidak ada kegiatan tambahan di sekolah. Sesampainya di rumah aku kemudian melamun sambil memikirkan undangan ulang tahun tadi.
“Kalau aku datang nanti aku datang sama siapa ya? Memangnya ada anak yang se sekolah sama aku? Nanti aku cuma luntang luntung kalau tidak ada temannya, duh.” Beberapa pertanyaan-pertanyaan mulai muncul di benakku.
            Sambil merebahkan badan di kasur kamar tidurku, aku mulai mencari kontak teman-teman SD-ku yang masih ku kenal. Ada beberapa yang sampai sekarang masih cukup dekat denganku. Ada juga yang dahulu pernah dekat denganku dan Adya, Ghea namanya. Aku kemudian mengirimkan pesan singkat untuknya.
“Ghe, kamu diundang ke acara ulang tahunnya Adya, kan? Aku kalau berangkat bareng kamu boleh?” kurang lebih begitu isi pesan singkatku. Kukirim pesanku ke nomor Ghea kemudian beberapa saat kemudian ada balasan.
“Oke, boleh kok.”
Yees, ada temannya”, pikirku.
            Hari yang sudah ditentukan pun tiba. Ghea datang ke rumahku untuk menjemput aku guna menghadiri acara ulang tahun Adya. Tak lupa juga kado dan ucapan untuknya telah kami siapkan. Sesampai di tempat ternyata sudah banyak tamu undangan yang berdatangan. Aku dan Ghea mengisi buku tamu, menyerahkan kado, dan kemudian duduk di kursi yang sudah disediakan.
            Ada beberapa teman SD lain yang masih aku kenal. Kemudian kami terlibat dalam suatu obrolan anak remaja. Senang rasanya bisa berkumpul kembali dengan teman-teman masa lalu. Kembali bersilaturahmi dan saling bertukar kabar.
            Acara pun dimulai dengan sambutan dari MC, kemudian doa, potong kue, makan bersama dan ditutup dengan penampilan band yang ada di restoran tersebut. Setelah hampir semua tamu undangan pulang, aku dan Ghea sempat mengobrol sejenak dengan Adya.
“Selamat ulang tahun ya, Ad. Ciee yang sudah bisa bikin KTP, bikin SIM juga” begitu lontarku. Sesaat obrolan kami menjadi panjang dan ketika kami menyadarinya kami ingat bahwa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam.
 Eh, aku duluan ya. Tita juga. Dah malem e, takut nek jalan malam-malam, dadah” kata Ghea. Kami pun pamit pulang kepada Adya dan keluarganya.
            Walaupun pertemuan kami hanya beberapa jam di malam itu, namun aku sudah sangat senang. Aku dapat berkumpul dan bersilaturahmi kembali dengan teman-temanku. Aku bisa berkata bahwa ini adalah semacam reuni kecil yang menyatukan kembali hubungan pertemanan kami.

             

Selasa, 26 Mei 2015

Ciptakan Arusmu



Hari ini kuawali hariku dengan kebiasaanku meminum segelas air putih setelah bangun tidur. Kemudian aku bergegas ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu kemudian melaksanakan solat subuh.
            Setelah itu aku mulai membaca buku pelajaran untuk mempersiapkan ulangan hari nanti. Kehidupan pelajar pada umumnya ya belajar dan belajar. Pernahkah kalian merasa bosan untuk melakukan hal ini
“Belajar merupakan kewajiban pelajar. Pelajar tu ya kerjanya belajar,” begitu kata Ibuku saat aku mulai mengabaikan satu kegiatanku ini. Belajar.
            Belajar bukan hanya pelajaran akademis. Hal itu yang pertama kali aku tangkap saat aku memasuki bangku SMA.
“Belajar hidup itu lebih susah Dek dibanding belajar matematika”, kata-kata itu masih jelas terngiang di telingaku dari lontaran salah seorang kakak kelas yang saat itu ngevent bersamaku. Memang betul bahwa belajar hidup jauh lebih susah dibandingkan pelajaran apa pun di dunia akademis. Oleh karena, belajar hidup adalah belajar selama kita masih hidup. Belajar bagaimana menghadapi kerasnya dunia ini. Mungkin saat ini kami belum mengetahui hal itu karena kami masih duduk di bangku SMA dan masih ikut orang tua. Namun, bukankah waktu terus berjalan ?
            Kami yang tadinya anak, suatu saat akan memiliki anak. Berubah menjadi orang tua yang memikirkan masa depan sang anak. Memikirkan bagaimana dapur harus tetap mengepul. Memikirkan bagaimana pendidikan si anak nanti. Ya, aku tahu itu masih akan terjadi selama beberapa tahun kedepan. Tapi apa salahnya jika kita mulai persiapan ini lebih dini?
            Sekarang tugas utama kita adalah belajar karena kita masih pelajar. Pelajar yang bukan hanya pelajar mainstream. Namun pelajar yang tahu kemana dia akan melanjutkan cita-citanya. Pelajar yang bukan hanya mengikuti derasnya aliran sungai yang mengalir. Namun pelajar yang menciptakan arusya sendiri dan menjadi inspirasi atau keteladanan bagi air lainnya.

Senin, 25 Mei 2015

Tolong Dengarkan Hati Kecilmu



Kesal. Mungkin hanya hal itu yang dapat Diana ungkapkan sekarang. Sudah tiga kali ulangan matematika ditunda. Senang. Ya, teman-teman sekelas bersorak-sorai waktu mendengar bahwa ulangan matematika hari ini ditunda. Ditundanya ulangan matematika hari ini memang menjadi suatu kegembiraan karena seharusnya ada 3 mata pelajaran yang mengadakan ulangan dan sekarang tinggal 2 mata pelajaran saja. Naif memang jika Diana kesal akan ditundanya ulangan matematika. Namun, dengan ditundanya ulangan matematika hari ini bukankah justru menambah beban pikiran?
            Hari ini pelajaran matematika pun berlangsung santai. Para siswa dibiarkan belajar dua mata pelajaran lain yang akan diulangankan hari ini. Asalkan tidak keluar kelas dan ramai. Diana pun mulai membuka lembar kerja siswa bahasa Inggris untuk menghafalkan materi yang telah diberitahukan. Beberapa menit kemudian jam pelajaran pun berganti. Guru bahasa Inggris mulai memasuki kelas dan ulangan pertama hari ini pun dimulai. Semuanya berjalan lancar.
            Setelah pelajaran bahasa Inggris usai, dimulailah ulangan kedua di hari ini, yakni ulangan Biologi. Namun, setelah warga kelasku menunggu cukup lama, guru biologi pun tak kunjung datang. Tiba-tiba salah seorang temanku membawa soal ulangan dan lembar jawaban. Dia kemudian berkata, “Gurunya nggak ada, ayo lek ndang digarap! Selak gurune teka.” Ada teman lain yang berkata, “Ayo ngerjainnya dibagi sekelas aja. Ada berapa e, soalnya?” Lalu semua bergegas membuka buku dan berdiskusi untuk menyelesaikan soal ulangan tersebut.
            Hal tersebut wajar sekali terjadi bukan? Apalagi jika tidak ada guru yang mengawasi kalian. Namun, apakah hati kecilmu tidak mengatakan sesuatu? Atau mungkin kita kurang peka untuk mendengarkan kata hati kita sendiri? Semoga saja kata hati kita yang kurang peka  masih bisa disembuhkan.